LDNU MWCNU Warureja Tegal : Harlah 100 Tahun NU: Menjadi Tua yang Mapan, Mandiri, dan Terus Mengabdi
26 Jan 2026 15:08Tegal. NU Online Jateng
Usia satu abad yang kini dicapai Nahdlatul Ulama bukan sekadar penanda panjangnya perjalanan organisasi, tetapi menjadi momentum muhasabah untuk meneguhkan kembali arah perjuangan jam’iyyah. NU telah melalui berbagai fase sejarah bangsa, dari masa penjajahan hingga era modern, dengan peran yang konsisten dalam menjaga agama, negara, dan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) MWCNU Warureja, Kabupaten Tegal, Kiai Sahroni, dalam mauidhoh hasanah pada rangkaian Lailatul Ijtima dan peringatan Harlah NU ke-100 Masehi di Dukuh Bandung, Desa Kendayakan, Kecamatan Warureja, Sabtu malam Ahad (24/1/2026).
Menurut Kiai Sahroni, usia NU yang telah mencapai satu abad dapat disebut sebagai usia tua, namun ketuaan yang dimaksud bukanlah lemahnya semangat, melainkan kematangan dalam berpikir, bersikap, dan berkhidmah. NU, kata dia, telah mencapai fase mapan secara organisatoris dan sosial.
“NU sudah tua, tapi tua dalam arti mapan. Tua yang matang, berpengalaman, dan punya tanggung jawab besar untuk terus memberi manfaat,” tuturnya
Ia menegaskan bahwa kemapanan NU harus dibarengi dengan kemandirian. Kemandirian tersebut bukan hanya dalam aspek ekonomi organisasi, tetapi juga dalam sikap, pemikiran, dan keteguhan memegang prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dalam perspektif keislaman, lanjutnya, kemandirian adalah cerminan dari izzah atau kemuliaan umat. NU yang mandiri akan lebih leluasa berkhidmah tanpa kehilangan jati diri dan tanpa mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat.
Kiai Sahroni mengingatkan bahwa kebesaran NU tidak boleh berhenti pada simbol, seremoni, atau nostalgia sejarah. Harlah ke-100 harus menjadi pemantik kebangkitan untuk memperkuat kontribusi nyata NU bagi umat dan bangsa.
“NU harus bangkit, bukan sekadar besar secara nama, tetapi besar dalam manfaat dan pengabdian,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kontribusi NU mencakup tiga ranah utama, yakni agama, negara, dan masyarakat. Dalam bidang agama, NU berperan menjaga akidah, merawat tradisi keislaman, serta menyebarkan Islam yang ramah dan menyejukkan.
Sementara dalam kehidupan berbangsa, NU sejak awal berdiri telah meneguhkan komitmen kebangsaan. Prinsip hubbul wathan minal iman bukan sekadar slogan, tetapi nilai yang terus dihidupkan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam ranah sosial kemasyarakatan, NU hadir melalui berbagai amal usaha, kegiatan dakwah, pendidikan, dan layanan kemanusiaan. Semua itu, menurut Kiai Sahroni, harus terus diperkuat seiring bertambahnya usia NU.
Ia juga mengajak warga Nahdliyin untuk menjadikan Harlah NU sebagai momentum memperbaiki niat dalam berkhidmah. Semakin besar organisasi, semakin besar pula tanggung jawab moral dan spiritual yang dipikul.
“Ber-NU bukan untuk mencari nama, tapi untuk mencari ridha Allah melalui khidmah kepada umat,” ungkapnya.
Kiai Sahroni menegaskan bahwa kekuatan utama NU terletak pada keikhlasan warganya. Dari ranting hingga pusat, NU akan tetap hidup jika nilai keikhlasan, kebersamaan, dan tawadhu’ terus dijaga.
Dalam konteks Lailatul Ijtima, ia menilai forum tersebut bukan sekadar pengajian rutin, melainkan sarana memperkuat kesadaran kolektif warga NU dalam menjaga tradisi, ukhuwah, dan kesinambungan perjuangan ulama.
“Tradisi seperti Lailatul Ijtima adalah ruh NU. Di situlah nilai keilmuan, spiritualitas, dan kebersamaan dirawat,” katanya.
Ia berharap, NU di usia satu abad mampu menjadi teladan bagi generasi muda dalam memadukan tradisi dan inovasi, tanpa tercerabut dari akar keilmuan para ulama.
Menurutnya, NU yang mapan dan mandiri adalah NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan prinsip.
“Modernitas harus dihadapi dengan kebijaksanaan, bukan dengan meninggalkan nilai dasar jam’iyyah,” tegas Kiai Sahroni.
Menutup mauidhoh hasanahnya, Kiai Sahroni mengajak seluruh warga Nahdliyin menjadikan peringatan Harlah NU ke-100 Masehi sebagai titik tolak untuk memperkuat niat, memperluas khidmah, serta memperteguh peran NU sebagai penjaga agama, perekat bangsa, dan pelayan umat sepanjang masa.
“NU akan tetap kokoh selama warganya istiqamah memegang ajaran para masyayikh. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan dengan adab, keikhlasan, dan kesungguhan, bukan sekadar merawat nama besar NU, tetapi menghidupkan nilai dan pengabdiannya,” pungkas Kiai Sahroni. (Tahmid)