Mengenal Lebih Dekat MWC NU Kecamatan Warureja: Sejarah, Wilayah, dan Khidmat Umat
Wilayah Dakwah dan Geografis Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Warureja menaungi aktivitas dakwah di wilayah geografis seluas 6.231,45 hektar yang membentang di pesisir utara Kabupaten Tegal . Wilayah ini berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara dan Kabupaten Pemalang di sebelah timur dan selatan, serta Kecamatan Suradadi di sebelah barat . Secara administratif, MWC NU Warureja melayani umat yang tersebar di dua belas desa atau ranting, meliputi Banjar Agung, Banjarturi, Demangharjo, Kedungjati, Kedungkelor, Kendayakan, Kreman, Rangimulya, Sidamulya, Sigentong, Sukareja, dan Warureja . Basis kegiatan organisasi dipusatkan di Gedung Sekretariat mandiri berlantai dua yang berdiri di atas tanah wakaf di Jalan Raya Kendayakan, Desa Kendayakan .
Jejak Sejarah dan Kepemimpinan Akar sejarah Nahdlatul Ulama di Warureja telah tertanam kuat sejak era 1960-an. Pada masa itu, para tokoh NU kultural telah eksis berjuang membentengi masyarakat dari pengaruh ideologi komunis . Namun, formalisasi struktur organisasi baru benar-benar terwujud pada akhir tahun 1980-an dengan terpilihnya KH. SF. Bakhtiyar sebagai Ketua Tanfidziyah pertama melalui musyawarah mufakat . Seiring berjalannya waktu, roda organisasi semakin tertata dengan mekanisme konferensi rutin yang dimulai sejak tahun 2005. Dinamika kepemimpinan terus bergulir secara sehat, mulai dari masa kepemimpinan Drs. H. Suwardi, M.Si, dilanjutkan oleh Riswo, S.Ag, M.Si, hingga estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh M. Syaefudin, S.Ag pada tahun 2022 untuk masa khidmat 2020-2025 .
Struktur Organisasi dan Lembaga Kekuatan MWC NU Warureja terletak pada kolaborasi harmonis antara ulama (Syuriah) dan pelaksana (Tanfidziyah), serta didukung oleh lembaga-lembaga teknis yang profesional. Jajaran Syuriah diisi oleh para kiai kharismatik seperti Ust. Zamroni Fachrurozi selaku Rois Syuriah, sementara jajaran Tanfidziyah bergerak di bawah komando M. Syaefudin, S.Ag . Untuk menjalankan misinya, organisasi ini memiliki berbagai perangkat lembaga, antara lain LDNU yang fokus pada dakwah, LP Ma'arif yang mengurus pendidikan formal, Lazis NU yang mengelola filantropi Islam, Lesbumi yang melestarikan seni budaya, serta LPPNU yang mendampingi para petani . Selain itu, terdapat pula Lembaga Bahsul Masail (LBM) yang secara aktif mengkaji persoalan hukum agama dan Lembaga Takmir Masjid (LTM) yang memakmurkan masjid-masjid NU .
Program Unggulan dan Kemandirian Umat Program kerja MWC NU Warureja dirancang untuk menyentuh seluruh aspek kehidupan warga Nahdliyin. Di bidang ekonomi, kemandirian dibangun melalui gerakan KOIN NU yang dikelola oleh UPZIS. Dana yang terkumpul dari kaleng infaq warga ini didistribusikan kembali dengan proporsi 60% untuk ranting, 25% untuk MWC, dan sisanya untuk PCNU, yang kemudian disalurkan untuk santunan dhuafa dan beasiswa pendidikan . Di bidang keagamaan, tradisi keilmuan dirawat melalui pengajian rutin "JIMAT NU" setiap Jumat pagi dan forum diskusi hukum Islam "Bahsul Masail" yang digelar selapanan setiap Ahad Pahing secara bergilir .
Tak hanya soal agama dan ekonomi, MWC NU Warureja juga peduli pada sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk. Melalui LPPNU, organisasi hadir menjembatani kesulitan petani dalam pengadaan pupuk dan pemasaran hasil panen . Sementara di bidang kebudayaan, Lesbumi aktif melestarikan kesenian Islam nusantara seperti hadroh dan sholawatan agar tetap lestari di tengah masyarakat Warureja . Semua ikhtiar ini dilakukan demi terwujudnya visi besar merawat jagat dan membangun peradaban yang mulia di bumi Warureja.