Momen Halal bi Halal dan Naharul Ijtima' MWCNU Warureja, KH Suroso Ajak Petani NU Mandiri dan Rawat Alam
12 Apr 2026 04:58WARUREJA – Ribuan warga Nahdliyin memadati Masjid Baiturrohim Desa Warureja untuk menghadiri rangkaian acara Halal bi Halal dan Naharul Ijtima' yang digelar oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Warureja bersama Badan Otonom (Banom), Minggu (12/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB ini diisi dengan rangkaian agenda khidmat mulai dari Khataman Al-Qur'an, pembacaan Maulid Nabi, hingga berbagai sambutan organisasi. Puncak acara diisi dengan Mauidhoh Hasanah yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Jawa Tengah, KH Suroso Abdul Rozak.
Kemandirian Petani dan Kritik Slogan
Dalam tausiyahnya, KH Suroso menyoroti fakta sosiologis bahwa sekitar 85 persen warga NU berprofesi sebagai petani. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pengelolaan sektor pertanian secara mandiri dan profesional sebagai pilar kekuatan organisasi.
"Warga NU harus bisa berdaya secara ekonomi melalui sektor ini. Contohnya, petani kita harus mampu membuat benih sendiri, memproduksi pupuk secara mandiri, hingga mengolah fungisida dan herbisida sendiri," tegas KH Suroso.
Beliau juga memberikan kritik konstruktif terhadap slogan besar NU, "Merawat Jagat Membangun Peradaban". Menurutnya, slogan tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai tulisan di spanduk, melainkan harus diwujudkan dalam aksi nyata.
"Jagat yang mana yang kita rawat? Peradaban apa yang kita bangun? Jangan hanya menulis, kita perlu mewujudkan apa yang kita tulis tersebut melalui perbuatan di lapangan," imbuhnya di hadapan jamaah.
Tiga Dimensi Tobat
Lebih lanjut, KH Suroso menjelaskan bahwa esensi Halal bi Halal di era sekarang tidak hanya membahas urusan agama secara teoretis, tetapi juga bagaimana manusia bersikap terhadap lingkungan agar tidak mendzalimi alam.
"Halal bi Halal ini juga tentang cara kita merawat alam. Kita harus sadar bahwa tobat itu ada tiga dimensi: tobat kepada Allah, tobat kepada sesama manusia, dan tobat kepada alam," jelas Ketua LPPNU Jateng tersebut.
Sebagai penutup pesan spiritualnya, ia mengajak warga NU untuk senantiasa mengamalkan Dawamul Wudlu (menjaga wudhu) dalam aktivitas sehari-hari. Ia meyakini bahwa menjaga kesucian diri akan membawa keberkahan hidup atau ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan), yang pada akhirnya akan menciptakan keharmonisan dalam keluarga.
Penulis: M. Nur Iskandar Fajri
LTN NU Warureja